Oleh : Ponirin Mika
Guru Madrasah Aliyah Nurul Jadid
Moment ini sangat berarti bagi wanita, dimana para wanita di hargai dengan baik. Dalam sejarahnya seorang perempuan dieksploitasi dan selalu termaginalkan, dengan adanya hari ibu diharapkan mampu memberikan semangat bahwa perbedaan merupakan realitas budaya bukan harga mati yang tidak bisa dihilangkan. Dengan harapan kenyataan ini tidaklah menjadi momok bagi kehidupannya.
Sebenarnya dalam islam tidak pernah ada bahwa seorang wanita berada dibawah kendali seorang laki-laki dalam segala hal. Melainkan ada beberapa hal yang menjadi tanggung jawab seorang laki-laki, dan ini bertujuan untuk menjaga keharmonisan antara perempuan dan laki-laki.
Bahkan dalam hadits nabi, nabi sangat merhargai seorang wanita sampai beliau mengabadikannya dalam sebuah hadit yang masyhur dikalangan masyarakat muslim. Memarginalkan seorang perempuan itu merupakan kelakuaan biadab orang jahiliyah, karena perempuan dianggap sebagai pembawa bencana dan sial. Anggapan ini bertolak belakang dengan ajaran islam bahwa terjadinya bencana tidak lain akibat dari olah pikir dan perbuatan manusia baik laki-laki maupu perempuan yang jauh menyimpang dari ajaran agama.
Fakta sejarah, bahwa pada masa jahiliyah dulu perempuan dikubur hidup-hidup. Jika ia datang haid ia diterlantakan karena sudah dianggap tidak berharga lagi, ia juga menjadi pemuas nafsu laki-laki. Dan dia harus tunduk dibawah kendali seorang laki-laki bahkan ia harus rela mengabdi terhadap kebiadaban laki-laki pada masa itu.
Realitas itulah yang menjadi salah satu motivasi dakwah Nabi dalam rangka untuk membangkitkan hak-hak perempuan dan bisa menemukan posisi yang sebenarnya.
Perempuan tidak semestinya dijadikan mahluk nomer dua, karena seorang perempuan pernah juga mengukir kesuksesan dalam sejarahnya. Sebut saja sitti khotijah dan siti aisyah ia merupakan tokoh sentral perempuan pada jamannya. Dari kedermawanan dan kecerdasannya bahkan siti aisyah pernah memimpin perang yang pengikutnya diikuti mayoritas kaum laki-laki.
Dengan adanya hari ibu ini, semoga tidak hanya di jadikan ritual saja, melainkan bisa membangkitkan semangat perempuan bahwa agama tidak mengenal perbedaan antara laki-laki dan perempuan dan agar perempuan termotivasi kembali dalam berkiprah di pentas yang lebih besar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar